Thursday, December 27, 2012

Untukmu, Si Bayangan Biru

Kamu bilang diamku adalah amarah yang tertahan. Bukan, diamku bukanlah amarah. Diamku adalah perjalanan aku mengerti semua. Diamku adalah proses dimana metabolisme perubahan dalam tubuh dan dirimu bekerja, yang nantinya diterima oleh otakku. Diamku adalah keheningan untuk menjauhkan diriku dari amarah. Bukan amarah itu sendiri.
Entah kau anggap aku pemarah atau pendendam, aku tak peduli, karena pada akhirnya pun kau jadi lebih banyak marah. Kamu lebih banyak berkonsentrasi pada amarah-amarahku yang semu, yang samar. Sedikit belajar mengerti balik. Akhirnya, kita temukan diri kita berdua bergulat dalam masalah-masalah yang abstrak. Dan disaat aku lelah, kau pun malah marah.

Kita menunggu hingga kalimat "time will heals" benar-benar datang. Kita sibuk merapikan isi kepala kita yang kusut. Kita berusaha menyamakan ritme langkah kaki dalam perjalanan yang singkat ini. Kita menunggu, menunggu hingga jatuh terpejam dan terlelap.

Tapi apakah kamu mau kita terlelap dan terbangun di dua tempat berbeda? Menjadi kamu yang kamu dan aku yang sepi. Aku tidak. Rasanya belum rela kulepas pelukan, tetapi jika harus terus bergulat dalam emosi tak beralasan inipun aku takkan sanggup. 
 

No comments:

Post a Comment