OH. Bahkan bukan satu hari, bahkan bukan 9 jam, hanya 7 jam yang selalu kita rencanakan sendiri. Kali itu bukan kali pertama aku menghabiskan waktu bersama. Tapi rasanya seperti kembang gula yang menempel di dinding-dinding mulut, begitu juga dengan momen 7 jam yang melekat dalam hati. Manis.
Hari itu, aku serap isi hatinya.
Banyak orang menegenalinya seperti tokoh. Peran dalam drama. Pahlawan dalam film. Karakter dalam cerita. Sedangkan aku, aku mengenalnya sebagai sahabat. Tapi aku mencintainya. Aku dekap denyutnya seakan-akan ia milikku. *dug dug dug* Kubiarkan napasnya mengisi lubang hatiku. Hidupnya menghidupkan hidupku.
Siang begitu terik. Mentari sedang sombong-sombongnya. Aku dan dia sedang sayang-sayangan.
Dengar, dengar. Pada dinding cafe suaranya memantul, lalu masuk melewati telingaku dan menelusup masuk ke hatiku. Ia bercerita. Aku perhatikan setiap gerak bibir yang ia lakukan, kata-kata meloncat bersamaan dari bibirnya. Kata-kata riang, mereka ceria, agak sedikit berbau sejarah, tapi banyak tercium kejujuran. Saat itu, telingaku menangkap kisahnya. Kembang gula manis kembali mengalir pada dinding mulut.
(Sekarang, kamu percaya keabadian?)
Kini, cafe itu sudah tutup. Tapi gemuruh tawa yang pernah memantul disana masih bergema di dalam sini.
Tahukah kamu? Selamanya baru berjalan sebentar. Namun kembang gula ini sudah membeku. Terlalu kaku, terperangkap dalam waktu.
(Ingatkah kamu bagaimana selamanya dalam satu hari?)