Ah, lagi-lagi kau datang. Ah, lagi-lagi aku rindu bermain sambil
hujan-hujanan di langit. Ya Tuhan, jam di dinding berdetak kencang sekali. Seolah
tiap detiknya melonjak-lonjak keluar area. Ah, kau terhenti lagi di sini.
Diburu dia, berburu itu. Ah, kau jadi bosan bermain dengan yang diam, aku
manggambar senyum saja.... sambil merayu langit siang.
Saturday, December 29, 2012
Friday, December 28, 2012
seharusnya kita tak pernah mendekatkan detak jantung
kita/berlomba saling berpacu mana yang lebih cepat/seharusnya kita tak pernah
bertatap mata/untuk saling menatap dan tatapannya pun sama tajamnya/tak pernah
terlalu dekat/tak ambil kesempatan untuk saling bernafas dalam udara yang sama/tapi
kamu terekam terlalu nyata/terekam dengan tombol ulang yang selalu menyala/sampai-sampai
isinya selalu kamu/kamu/kamu/dan bentuk garis lurus yang panjang/menyalakan
indahmu/meliuk-liuk bagaikan api yang tak kunjung padam/sosokmu muncul lagi//
kamu berikan senyum itu lagi/sekali
mengangkat kepala/lalu tertunduk/mengubriskan ekspresi terindah/aku terenyuh/tubuhku
bergetar/hati mengubah berjuta rasa/jiwa penuh gejolak/aku tertikam//
garis matamu/singkat/dan senyummu/terus bermain di
sini/tak lenyap/ataupun memuai//
aku
mencurigaimu di setiap waktu/mencuri bagian hidupmu lewat benda tak bernyawa
ini/berusaha untuk mendengar/dan mengambil posisi terdepan untuk menebak-nebak apa
isi hatimu/aku sedang menaiki komidi putar/yang berputar-putar/tak kunjung
henti/aku semakin terjerumus ke dalam fantasi/sebab di antara putarannya itulah
kutemukan arti//
Thursday, December 27, 2012
dalam diam tubuh kita saling menyapa
cerita-cerita asik bercengkerama
cerita lalu ataupun sekarang
yang saling bergulat berusaha menjadi alur
di sela-sela udara yang telanjang
sebagaimana kita menepis untuk mengenakan nama
cerita itu berbaring lagi, menepi
menyangsikan kemana ia terbang
diantara tubuh yang berpeluh menahan untuk tak berpisah
lagi-lagi akibat waktu kita terbatas
semoga kesempatan segera datang
untuk tubuh saling menyapa
dan cerita kembali berbincang
cerita-cerita asik bercengkerama
cerita lalu ataupun sekarang
yang saling bergulat berusaha menjadi alur
di sela-sela udara yang telanjang
sebagaimana kita menepis untuk mengenakan nama
cerita itu berbaring lagi, menepi
menyangsikan kemana ia terbang
diantara tubuh yang berpeluh menahan untuk tak berpisah
lagi-lagi akibat waktu kita terbatas
semoga kesempatan segera datang
untuk tubuh saling menyapa
dan cerita kembali berbincang
Untukmu, Si Bayangan Biru
Kamu bilang diamku adalah amarah yang tertahan. Bukan, diamku bukanlah amarah. Diamku adalah perjalanan aku mengerti semua. Diamku adalah proses dimana metabolisme perubahan dalam tubuh dan dirimu bekerja, yang nantinya diterima oleh otakku. Diamku adalah keheningan untuk menjauhkan diriku dari amarah. Bukan amarah itu sendiri.
Entah kau anggap aku pemarah atau pendendam, aku tak peduli, karena pada akhirnya pun kau jadi lebih banyak marah. Kamu lebih banyak berkonsentrasi pada amarah-amarahku yang semu, yang samar. Sedikit belajar mengerti balik. Akhirnya, kita temukan diri kita berdua bergulat dalam masalah-masalah yang abstrak. Dan disaat aku lelah, kau pun malah marah.
Kita menunggu hingga kalimat "time will heals" benar-benar datang. Kita sibuk merapikan isi kepala kita yang kusut. Kita berusaha menyamakan ritme langkah kaki dalam perjalanan yang singkat ini. Kita menunggu, menunggu hingga jatuh terpejam dan terlelap.
Tapi apakah kamu mau kita terlelap dan terbangun di dua tempat berbeda? Menjadi kamu yang kamu dan aku yang sepi. Aku tidak. Rasanya belum rela kulepas pelukan, tetapi jika harus terus bergulat dalam emosi tak beralasan inipun aku takkan sanggup.
Kita menunggu hingga kalimat "time will heals" benar-benar datang. Kita sibuk merapikan isi kepala kita yang kusut. Kita berusaha menyamakan ritme langkah kaki dalam perjalanan yang singkat ini. Kita menunggu, menunggu hingga jatuh terpejam dan terlelap.
Tapi apakah kamu mau kita terlelap dan terbangun di dua tempat berbeda? Menjadi kamu yang kamu dan aku yang sepi. Aku tidak. Rasanya belum rela kulepas pelukan, tetapi jika harus terus bergulat dalam emosi tak beralasan inipun aku takkan sanggup.
Wednesday, December 26, 2012
Akan tiba masanya, padaku tak ada lagi suka. Daun kering jatuh menunggu hancur. Bunga layu tergantung menunggu angin membawanya. Jangan kau tunggu kering, sayang. Jangan segan untuk pamit dan bergegas mengejar pesawat.
Tuesday, December 25, 2012
"LAH, kamu tidak percaya komitmen?"
"Saya percaya, bahkan ketika saya bilang saya tidak percaya pun sebenarnya saya percaya."
"Lalu, kamu percaya tapi tak mau berkomitmen, begitu?"
"Menurutmu, apa itu komitmen?"
"Janji atas dasar kesetiaan, mungkin."
"Hahaha."
"Menurutmu tidak?"
"Menurutku, itu seperti masuk kedalam perangkap."
"Saya percaya, bahkan ketika saya bilang saya tidak percaya pun sebenarnya saya percaya."
"Lalu, kamu percaya tapi tak mau berkomitmen, begitu?"
"Menurutmu, apa itu komitmen?"
"Janji atas dasar kesetiaan, mungkin."
"Hahaha."
"Menurutmu tidak?"
"Menurutku, itu seperti masuk kedalam perangkap."
Monday, December 24, 2012
Sebenarnya sebagai seorang penulis, saya agak marah. Saya marah ketika orang mempertanyakan isi otak saya. Isi otak yang keluarnya dalam bentuk tatanan kata. Namun saya sadar,
Tuhan tidak menciptakan kepintaran hanya untuk satu orang.Tuhan menciptakan perbedaan interlejensi di setiap orang untuk menertawai kebodohan di masing-masing otakku dan otakmu.
Sunday, December 23, 2012
Angin yang Lalu
Kamu bilang, "ku melepasmu bersama sejuta prasangka
dan rindu yang kugantung di langit."
Tapi kukatakan pada kamu, berotasilah. Jgn pusing utk
memutar balik.
Tapi kamu tidak akan balik lagi kepadaku, kamu hanya akan kembali pada masa lalu sebagai kenangan.
LAH, angin yang datang dari barat saja gak pernah balik lagi ke barat.
Tapi kenapa kamu mengemis mengharapkan aku lagi?
Saturday, December 22, 2012
Terkadang aku terdiam karena dunia memusuhiku dengan kata
Aku bergerak perlahan
seolah-olah aku balerina tak bertungkai
yang terkulai
Kadang daratan menjauhiku dari dinamik
aku akan terpejam
Seperti langit yang tidur dikala malam
Karena hujan meninggalkanku di tengah sahara
Aku akan berhenti di depan pintu itu
Tidak mengetuk
Tidak bergerak
Tidak memandang
Aku hanya berdiri
dan menunggu..
Kamu terjaga dari mimpi semalam
Kamu bangkit dan bersalin pakaian
Kamu duduk dan menghabiskan sarapan
Kamu berjalan dan meletakkan handphone
Kamu berjalan lurus
sampai di depan pintu
dan kamu selalu membuka
Kita tidak hanya berdiri
Aku kini berkata-kata, bergerak, dan memandang
Kamu berbisik dan bilang:
Aku bergerak perlahan
seolah-olah aku balerina tak bertungkai
yang terkulai
Kadang daratan menjauhiku dari dinamik
aku akan terpejam
Seperti langit yang tidur dikala malam
Karena hujan meninggalkanku di tengah sahara
Aku akan berhenti di depan pintu itu
Tidak mengetuk
Tidak bergerak
Tidak memandang
Aku hanya berdiri
dan menunggu..
Kamu terjaga dari mimpi semalam
Kamu bangkit dan bersalin pakaian
Kamu duduk dan menghabiskan sarapan
Kamu berjalan dan meletakkan handphone
Kamu berjalan lurus
sampai di depan pintu
dan kamu selalu membuka
Kita tidak hanya berdiri
Aku kini berkata-kata, bergerak, dan memandang
Kamu berbisik dan bilang:
"You're home wherever you are.."Ma, selamat hari ibu. Aku mencintaimu. Selalu.
Saat Semua Kembali..
Kemana langkahnya daun-daun
saat angin berhembus dari barat
ke langit di sebelah timur?
Ke langit barat?
Kemana terbangnya burung-burung
kalau hujan datang dari utara
ke pepohonan di selatan?
Atau laut tenggara?
Kemana kamu akan pergi
jika aku datang dari perang
ke hutan?
Atau menjemput di Teluk Jawa?
saat angin berhembus dari barat
ke langit di sebelah timur?
Ke langit barat?
Kemana terbangnya burung-burung
kalau hujan datang dari utara
ke pepohonan di selatan?
Atau laut tenggara?
Kemana kamu akan pergi
jika aku datang dari perang
ke hutan?
Atau menjemput di Teluk Jawa?
Friday, December 21, 2012
Tubuhku panas dicumbu matahari dan detaknya menggema jadi halilintar. Siang jarang seganas ini. Dan aku tak pernah sekeras ini jatuh.
Saat malam mengencani, dingin memeluk. Kubiarkan tangannya menjalar di tubuhku.
If this little thing is called love, then let it be..
Saat malam mengencani, dingin memeluk. Kubiarkan tangannya menjalar di tubuhku.
If this little thing is called love, then let it be..
Tuesday, December 18, 2012
Nah, kau mau menyesal karena melangkahkan kaki masuk ke sini?
Aku bilang,
tahan dulu penyesalanmu.
Tidak ada pesta sebelum derita.
Tidak ada surga sebelum neraka.
Tidak ada yang mudah sebelum yang sukar.
Sekarang kau masih mau bilang menyesal?
Menanti angin itu harus tahu.
Ia tak akan lebih lama dari
kedipan mata.
Menanti angin itu harus dengan keikhlasan.
Bahwa ia tiba
untuk segera berlalu.
Aku benamkan kepalaku dalam riuh rendah tawa
Amandelnya bergetar-getar,
Sekeras itukah tawamu?
Punggungnya bergerak,
Seakan amat menggelitik.
Tawanya pun sudah membuatku tersenyum,
menghilangkan rasa kecewa yang sudah terpendam sejak lama.
Padahal kemarin, yang ku dapat hanya bunyi
dan kesendirian tak lagi jadi milikku.
Amandelnya bergetar-getar,
Sekeras itukah tawamu?
Punggungnya bergerak,
Seakan amat menggelitik.
Tawanya pun sudah membuatku tersenyum,
menghilangkan rasa kecewa yang sudah terpendam sejak lama.
Padahal kemarin, yang ku dapat hanya bunyi
dan kesendirian tak lagi jadi milikku.
Aku mau ketawa, dong!
Aku geregetan liat kalian yang serius nanggepin kicauanku.
Aku mau ketawa, dong!
Kicauku bahkan gak lewat otak,
apalagi sumsum tulang blakang.
Aku mau ketawa, dong!
Ketawaku aja gak lewat sela-sela jari
yang malas dan bosan.
Makanya, aku mau ketawa dong!
Aku geregetan liat kalian yang serius nanggepin kicauanku.
Aku mau ketawa, dong!
Kicauku bahkan gak lewat otak,
apalagi sumsum tulang blakang.
Aku mau ketawa, dong!
Ketawaku aja gak lewat sela-sela jari
yang malas dan bosan.
Makanya, aku mau ketawa dong!
Setiap manusia memiliki rahasia tersendiri.
Setiap wajah memiliki cerita.
Kita hidup bukan untuk diisi oleh gumpalan duka.
Kita manusia yang berisi tak ada,
hidup itu untuk ada.
Maka isilah dengan aliran bahagia.
Setiap wajah memiliki cerita.
Kita hidup bukan untuk diisi oleh gumpalan duka.
Kita manusia yang berisi tak ada,
hidup itu untuk ada.
Maka isilah dengan aliran bahagia.
Semua Orang Bicara dan Aku Hilang
Aku mulai mengerti bahwa ketiadaanku adalah ada yang lain.
Bayangkan kamu adalah Piko. Piko yang pergi ke sekolah. Piko yang hobi menari, Piko yang suka menyanyi, dan semua kegiatan yang menyangkut seni. Piko mempunyai 1 kakak laki-laki, 2 adik yang lagi-lagi laki-laki, ayah, dan ibu. Hamsternya mati 2 bulan lalu dan ia masih berduka.
Coba suatu hari kau bayangkan. Piko mati, menghilang dan pergi dari rutinitasnya. Ia tak bersekolah. Ia tak menari ataupun bernyanyi. Tak ada laki kakak dan adik laki-laki, ayah, ataupun ibu. Piko hilang, lenyap dan pergi bersama seluruh dunia yang ia hidupi.
Nah, kalau gitu siapa yang tersisa?
Mari kembali kepada awal kataku,
Ketiadaan adalah ada yang lain. Saat aku bilang, bayangkan kamu adalah Piko. Ketiadaan Piko menghasilkan kamu. Dan ketiadaan kamu menghasilkan Piko-piko yang baru. Jadi, apakah kamu adalah kamu yang sebenar-benarnya? Apakah kamu benar-benar kamu?
Tidak akan dan jangan kau pikir. Inilah keadaan yang mengerikan buatku.
Mungkin, aku yang bicara ini tidak bernama. Atau iya? Ah, aku ragu.
Bayangkan kamu adalah Piko. Piko yang pergi ke sekolah. Piko yang hobi menari, Piko yang suka menyanyi, dan semua kegiatan yang menyangkut seni. Piko mempunyai 1 kakak laki-laki, 2 adik yang lagi-lagi laki-laki, ayah, dan ibu. Hamsternya mati 2 bulan lalu dan ia masih berduka.
Coba suatu hari kau bayangkan. Piko mati, menghilang dan pergi dari rutinitasnya. Ia tak bersekolah. Ia tak menari ataupun bernyanyi. Tak ada laki kakak dan adik laki-laki, ayah, ataupun ibu. Piko hilang, lenyap dan pergi bersama seluruh dunia yang ia hidupi.
Nah, kalau gitu siapa yang tersisa?
Mari kembali kepada awal kataku,
Ketiadaan adalah ada yang lain. Saat aku bilang, bayangkan kamu adalah Piko. Ketiadaan Piko menghasilkan kamu. Dan ketiadaan kamu menghasilkan Piko-piko yang baru. Jadi, apakah kamu adalah kamu yang sebenar-benarnya? Apakah kamu benar-benar kamu?
Tidak akan dan jangan kau pikir. Inilah keadaan yang mengerikan buatku.
Mungkin, aku yang bicara ini tidak bernama. Atau iya? Ah, aku ragu.
Sunday, December 16, 2012
Aku mencari kata di antara siluet
Mencoba untuk mengartikan wujud
Bukan untuk beraksi
ataupun bereaksi
Tapi hanya sekadar melepas dahaga
untuk mengisi kekosongan
Aku si lapar yang rakus
Aku pengasah kesempatan di antara kesempitan
Aku kalian yang tak disebutkan
Mencoba untuk mengartikan wujud
Bukan untuk beraksi
ataupun bereaksi
Tapi hanya sekadar melepas dahaga
untuk mengisi kekosongan
Aku si lapar yang rakus
Aku pengasah kesempatan di antara kesempitan
Aku kalian yang tak disebutkan
Bulan
Aku menunggu
setiap kali langit
mulai menguap
setiap kali ia
mengantuk
Aku selalu mencari
melodi bulan
Ting tung ting tung.
Chis chik cis.
Tapi mengapa langit
begitu pelit?
Aku hanya
mengharapkan bulan
Tunggu,
sebentar,
sebentar saja
Tunjukkan aku lagi
pesona bulan
Biarkan inderaku
menelusuri jejaknya
sejauh apapun itu
Aku tak peduli
seberapa jauh jarak yang harus aku tempuh
Meskipun langit tak
lagi mengantuk
dan mentari masih
sembunyi
Aku akan terus
menunggu
untuk ku telusuri jejakmu
Aku ingin bulan terus di sana tapi aku tahu kita tak
berdaya
Bulan, kamu dijaga oleh semesta.
Subscribe to:
Posts (Atom)
