Wednesday, January 28, 2015

Mari duduk dan saling tukar pikiran. Kamu bertugas untuk mendengarkanku. Aku memintamu untuk memberi sepenuhnya perhatianmu. Aku lebih suka kita bertemu di suatu titik dengan amarah yang kamu katakan ketimbang kamu menulikan telingamu atas ucapanku.

Aku butuh kekagumanmu atas apa yang kupikirkan yang tak kamu temukan di lain tempat.

Atau jangan-jangan aku telah jadi kanak-kanak perempuan yang riang gembira dan manis dan... dungu?
She wears all black,
just like her soul
yet her heart is made of gold

Thursday, January 15, 2015

Aku ingin menjadi astronot di matamu. Ada angkasa di sana, juga kumpulan bintang-bintang. Adakah cara untuk membuat ruang di dalam mata? Aku ingin sekali ke sana.
Kadang aku melihat laut di matamu. Ada kehidupan di sana. Ikan besar, ikan kecil, dan ikan lain yang tak kukenal namanya. Ikan yang berlomba-lomba memberi atraksi indah dan sempurna. Kalau begitu, aku ingin menjadi ikan di matamu, juga hidup dan bernapas di dalamnya. Menurutmu, bagaimana?
Matamu bak matahari bagi bumiku yang menguasai aku siang malam. Dan aku yang selalu berputar mengelilingimu.
Tolong izinkan aku menjadi obat tetes, yang melebur dalam cairan di matamu.
Bisakah matamu terbang dan mencari?
.
.
.
Suatu hari ada kesendirianmu, yang tertangkap oleh mataku segala resah dan gelisah di dadamu. Pada sebuah pagi ketika rona merah matahari tuntas menidurkan malam, engkaulah yang akan membangunkan segala rahasia hari; melalui secangkir kopi hitam buatanmu, dan puisi yang kita sajikan sebelum senja tiba.
Ada hembus nafasmu yang sejuk menidurkanku. Ketika saat itu tiba, aku ingin mengajakmu menidurkan kesendirian, membungkus rahasia kecil kita berdua; Sebab pertemuan ini, ialah sementara yang abadi, di dalam puisi atau sajak-sajak tentang kita yang kasmaran. Tentang dua manusia yang saling memusnahkan logika masing-masing.
Dan saat malam menyambut, selimutnya tak lagi basah, karena air mata sudah menjelma bahagia yang menawar segala resah, yang telah dipertemukan waktu pada sebaris sudah; Kita, yang aku semogakan.

Yang tak pernah bosan memperhatikanmu,

M.

Saturday, January 10, 2015

H+1 kita berbincang di bawah pohon di depan kelasmu itu
Lelah ya lari mengejarku?
Tenang, aku menunggumu, kok
Lagipula, kita kan mencuri pandang sudah berhari-hari ini dari pagi hingga petang
Ah, indah
Sadarkah kamu saat kamu sampai ke depan wajahku,
Semua gerakmu kurekam lagi
Terburu-buru (mungkin gugup) entah mencari apa di dalam kotak
"Ketemu!", sahutku sendiri dalam diam
Berwarna kuning, berhiaskan kipas diatasnya
Tebak apa?


Terima kasih,
Aku sangat menyukainya

Jangan merasa bersalah (lagi, ya) karena bungkusnya sedikit rusak bagimu
Bagiku tidak
Ya.. Setidaknya tidak rusak selama kamu tak beranjak