Thursday, December 04, 2014

Aku menemukan secarik kertas diantara daun-daun yang berguguran di musim semi
Tulisan dengan huruf tegak miring ke kanan, tidak menyambung terbaca jelas di mataku
Kubaca berulang-ulang
sampai kumengerti
Tapi untuk kesekian kalinya aku membaca,
tak juga kutemukan petunjuk

Kini ia berdiri tepat di depan mataku
Memperhatikan aku yang sedari tadi mencari arah
Ia diam
Kami hanya bicara melalui tatapan
yang juga tidak aku pahami

Kemudian,
ia pun mulai mengabur
dan aku belajar untuk mengerti


Jadi seperti ini maksudmu?
Ini yang harus kupelajari?

Sunday, November 16, 2014

Jujur saja, aku bingung
Kita benar-benar sedekat nadi,
saling bersandar melebihi sepasang kekasih,
dan tak pernah sejauh matahari

Tapi tolong, aku butuh berjalan di jalan yang mulus
dan kamulah yang harus perbaiki
Secepatnya

Aku tunggu komentar kamu tentang hal ini, ya

Tuesday, October 21, 2014

*peluklah siapapun dia yang kamu puja. sekalipun aku tahu, dia itu semu bagimu*

kalian bosan?

Aku yakin kalian pasti bosan mendengar ceritaku

Tapi tolong, aku selalu sendirian. Dan hanya disinilah aku merasa tak sendiri
Senyuman itu membunuh

Mungkin memang kita tak seharusnya saling sapa
Saling bertukar canda
Saling bertukar tawa
Saling bertukar peluh
Tapi untung saja--kita tak akan bertukar peluk

Seharusnya kita tak sedekat nadi



Aku takut kalau nanti kita juga (akan) sejauh matahari

Menulis?

Aku bermimpi untuk menulis
Menulis apa?
Aku tak tahu. Menurutmu aku harus menulis apa?
Hmm, sebaiknya kamu menulis tentang ide
Ide?
Ya, ide. Aku memaksamu mencari ide atas dasar sebuah ide
Lalu aku bisa temukan ide dimana?
Dimana-mana
Dimana-mana, dimana?
Di sekitarmu
Sekitarmu apa?
Sesuatu yang kau lihat, kau dengar, kau rasa...
Maksudmu?
Aku ingin bertanya. Sekarang kamu bisa lihat apa?
Lihat banyak. Lihat langit, lihat taman, lihat kamu
Kalau yang kamu rasakan?
Aku merasakan... ah, aku tak tahu
Bagaimana dengan yang kamu dengar?
Banyak
Coba jelaskan?
Aku tak bisa. Yang aku dengar terlalu banyak
Sebanyak apa?
Sebanyak-banyaknya
Nah, sekarang lihat. Kamu telah menulis
Benarkah?
Tentu, coba saja lihat
Aku tak berani. Seram. Gelap.
Apanya yang seram? Apanya yang gelap?
Sekitarku seram. Sekitarku gelap. Aku takut
Kenapa harus takut?
Aku tak punya teman
Memangnya temanmu kemana?
Hmm.. aku tak tahu. Dia hilang
Hilang kenapa?
Dicuri waktu
Waktu siapa?
Waktu, penggerak kehidupan yang jahat itu
Jahat kenapa?
Iya, dia membuat semua momen tidak dapat stagnan di satu titik. Ia membuat hidup selalu berevolusi
Lalu?
Kupikir dia jahat. Aku tak suka dengannya
Tak suka kenapa?
Dia jahat
Baiklah. Kalau begitu kamu harus suka padaku
Memangnya kamu siapa?
Aku.. penawar rindu di hatimu, mungkin?

Monday, October 20, 2014

Saya sedang duduk di seberang kamu
Indah, bukan?
Tentu saja
Dari sini aku dapat melihat senyum indahmu,
mendengar tawamu yang renyah,
dan
.
.
.
merasakan tatapanmu yang sampai ke hati

Aku rasa,
aku (jatuh) cinta kepadamu,
pemilik awan cerah
Bukankah terasa sepi sekali dalam gelap?
Untung saja kutemukan kamu,
lilin kecil penerang terbesarku saat ini

Sunday, October 19, 2014

Aku jatuh cinta
pada seseorang yang bahkan sampai hari ini pun aku tak tahu warna matanya
mungkin hijau,
mungkin juga coklat muda

-Rectoverso, 2013

Tuesday, October 14, 2014

Ternyata memang benar

Mata itu memang tak pernah menipu
Pandangan itu memang benar-benar setulusnya menggodaku
Kata-kata yang terhubung menjadi kalimat dari mulutnya terjun indah sekali
Penuh warna--merah, kuning, hijau, biru, dan lainnya yang bersatu menjadi putih
Sesekali rambut itu ia kibaskan
Uh, makin mempesona saja

Aku yakin
Ia pasti tahu kusuka padanya
Ah, aku gagal memakai topeng (lagi)

Tuesday, October 07, 2014

Serap kata-katamu lagi
Saya yakin kamu salah ucap
Atau salah kecap?
Uh, jelas itu bukan lidahmu, kan?
Lalu
Itu
Lidah
Siapa
?
Mungkin ini kali pertama kutemukan berlian di balik semak belukar
Tapi justru bukan disitulah perhatianku tertuju
Aku lebih memperhatikan mawar berduri tajam yang sudah mulai layu
Yang tangkainya hampir saja patah
Yang meskupun sebentar belum terkena sinar matahari
Ah, mungkin ia hanya butuh kehangatan
Hmm..
Mungkin kau mau bertukar peluk?

Sunday, September 07, 2014

Sahabat Kecil

Uh, sini dengarlah cerita baruku.
Duduklah di dekatku sambil sesekali seruput teh hijau buatan Mbok Pita itu.
Kamu tahu kenapa?

Agar aku bisa merasakan hangatnya dekapanmu (lagi).

Jelas saja, aku tetap rindu. Sudah lama sejak kita tak saling jumpa, kita tak bertukar peluh, atau yang lebih indah dari itu--peluk.

Sejak itu, rinduku berceceran di atas daun-daun kering musim gugur, menunggu diterpa semilir angin Kota Jakarta. Rinduku hanya menunggu penjelajahannya ke kota lain, Kota Depok.

Di sisi lain, aku merasakan banyak kacamata-kacamata baru terpasang. Entah, mungkin memang banyak pengguna kacamata yang naif di tempat ini. Mungkin sudah biasa bagi mereka semua. Atau mungkin hanya aku yang norak dan baru tahu.



Tetapi intinya, aku merindukanmu dengan segenggam nasehatmu, Sahabat Kecil.

Saturday, September 06, 2014

Pulang

Kamu sudah pulang?

Loh, kamu pergi lagi?

Kalau begitu,

Kamu kapan pulang lagi?

Bukan, bukan,
Aku bukan merindukanmu


Hanya saja
Sebagian diriku hilang
jika kau tak disini

"ah cukup!"

akhirnya kini kukembali lagi
menggenggam secangkir kata
setelah melepas rangkaian-rangkaiannya
satu demi satu

kini aku tak lagi sendiri
aku ditemani secangkir kopi hitam yang hangat
dan udara malam yang sejuk
juga dekapannya yang semakin erat
ditambah lagi dengan kecupannya yang...
"ah cukup!"
semakin dalam saja aku tenggelam dalam rindu