Monday, December 30, 2019

Kamu bilang, "Jaga diri"

Saya berusaha untuk terus menelusuri tapi sayang belum waktunya meraih.
"Jaga diri baik-baik, kita kan jumpa saat semesta mengundang kembali".

...

Saya mau teriak rindu tapi bukankah semua tuli?

Thursday, December 26, 2019

Suara pintu terbuka. Seorang laki-laki.
Ia masuk dengan permisi tapi langsung menganggap rumah sendiri.
Lelaki itu menenteng keranjang berisi buah-buahan. Ada apel, pisang, melon, mangga, stroberi, sampai kelapa pun ada. Gimana coba saya makannya?
Katanya, "Ini buat kamu. Saya tahu kamu suka buah. Saya sudah berjalan dari kota ke kota untuk menemukanmu".

Saya suka sekali kelapa. Jadi saya coba buka buah kelapa itu.
Saya ambil pisau yang paling tajam yang kira-kira bisa untuk membelah.
Alih-alih menikmati kelapa, tangan saya justru teriris. Kulit jari saya terbuka lebar.
"Sini saya obati!", celetuknya.

Ingin tangan mengadah tapi kepala saya menolak setuju. Saya buang muka terang-terangan di hadapnya.
Ia menatapku bingung--sedikit kecewa.
Lantai berubah jadi merah dan bajunya berubah menjadi abu.

Apa yang kau cari, Tuan?
Di antara petikan gitar dan cahaya malam temaram.
Kamu tidak akan menemukan apa-apa. Saya tidak akan memberi yang Tuan ingin mulai.

Saya buka pintu berharap ia cepat keluar. Ruangan sudah terlalu sesak.

Sunday, December 22, 2019

"Apakah dia baik-baik saja?"

Tak ada jawab
dari sekian KM.

Monday, December 16, 2019

the sky turns blue
and the orchestra plays dreary
without you

Thursday, December 12, 2019

Aku bisa melihatnya mengintip dari balik jendela. "Ceroboh juga geraknya", kataku.
Pikiranku kini tak ayal, malah terjebak di dalam labirin. Sial.

Bukannya cepat-cepat lemparkan api, aku justru menyambutnya dengan simfoni pekat. Ia pun berani melangkah masuk ke ruangan gelap ini. Duh.

Entah kenapa rasanya berbeda. Seperti ada percikan cahaya.

Friday, November 15, 2019

Akhir-akhir ini rasanya terjebak bersama angan yang terus berebut ingin dipandang

Friday, August 23, 2019

-

Aku bercerita tentang senja di kala semua rasa optimisku mulai pudar. Pudar oleh biasan-biasan tak beraturan putaran waktu yang terus berjalan. Hanya waktu yang bisa disalahkan oleh manusia atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Senja ini indah bersama pelangi. Temaram oleh jingga dan merah merona guratannya. Aku terdiam merasakan terpaan angin di tepian pantai. Berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa kembali menikmati sepiring nasi berserta lauk-pauknya yang bisa membuat perut ini berhenti berbunyi.

Waktu terus berlalu tanpa ada jeda sedikitpun sampai senja berlalu dari pandanganku. Aku merasa waktu bersama senja adalah salah satu lukisan terbaik yang Tuhan ciptakan untuk makhluknya. Senja membuatku hidup kembali.

Kini, senja masih bersama dan pengharapanku atas waktu masih mengalir deras dalam benak. Semoga esok senja masih menampakkan keindahannya yang elok, memberikan semangat bagiku yang kadang jenuh atas putaran-putaran waktu yang semakin menggila.

Hari ini, senja sudah tidur. Kusisipkan sedikit tenaga untuk sampaikan sapaan selamat malam kepadanya.

Wednesday, April 24, 2019

thought i could see you
again
somewhere
in a place
that we may call home

Friday, April 19, 2019