Friday, April 26, 2013

Rain on Days

...boleh aku pulang?
aku ingin pulang.
aku ingin pulang.
"aku ingin pulang!"
teriakku di bawah hujan.
aku senang hujan di kala hujan,
sebab tak akan ada yang bisa melihatku.
aku mau pulang.
sekali lagi,
"aku mau pulang!"
aku terlalu jauh dari rumah.
aku mau pulang dan kembali ke pangkuannya.
aku rindu rumah.
aku rindu peneduh.
aku rindu penangkapku kala kalut.
aku rindu sang pemenang saat menghadapiku.
aku mau pulang.
aku rindu dan...
aku terlalu jauh dari rumah.
aku takut.
aku mau pulang!
aku mau pulang!
aku mau pulang secepatnya!
aku harus pulang secepatnya.
aku takut pada seluruh komposisi dunia.
aku mau pulang
agar aku aman
dan punya teman untuk bicara.
aku mau pulang dan kembali.
tapi terlambat,
dunia sudah terlebih dahulu membunuhku
secara pelan-pelan
tapi tragis.
saat di temukan aku sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
begitu juga dengan dunia.
dunia hujan kekeringan,
dunia hijau kelaparan,
dan dunia merah jambu masih tetap meringis.
ah, kau tahu.
dia sudah menangis sejak kemarin.
meskipun ia tak terlihat,
ia punya rasa.
dan aku bisa merasakan
bahwa di balik sana ia sedang tertekan
sebab dunia yang keji.
kalau kamu tak percaya, biarlah.
setidaknya itu pemikirannya sekarang.
yang entah sampai kapan pemikiran itu akan bertahan.
mungkin saat ia mulai merelakan semua.
dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja
tanpa ada sedikitpun lagi yang harus dipikirkan.
mungkin kini ia harus mulai belajar
untuk merelakan dunia berkuasa.
dan justru bukan dia yang berkuasa.
"padahal aku yang punya duniaku!",
dengan egoisme yang tinggi aku marah sehebat-hebatnya.
dan dunia pun ikut menggerutu,
"kalau kamu tak suka, sana pergi jauh-jauh dari sini! 
tak usah kembali! kami punya aturan yang harus dipatuhi
dan jika kamu ingin tetap disini,
kamu harus patuhi aturan-aturan yang sudah kami buat itu!"
aku diam,
lalu aku berkata pada dunia,
hanya dengan tiga kata
yang bagiku sudah lebih dari cukup
tapi ia tak juga mengerti,
"Aku ingin pulang..."

No comments:

Post a Comment