Aku bisa melihatnya mengintip dari balik jendela. "Ceroboh juga geraknya", kataku.
Pikiranku kini tak ayal, malah terjebak di dalam labirin. Sial.
Bukannya cepat-cepat lemparkan api, aku justru menyambutnya dengan simfoni pekat. Ia pun berani melangkah masuk ke ruangan gelap ini. Duh.
Entah kenapa rasanya berbeda. Seperti ada percikan cahaya.
No comments:
Post a Comment