Gelak tawamu seperti kaca,
mencuri denting-denting curahan surga.
Suaramu...
Ah, bergemuruh di telingaku.
Kamu berparuh tajam, aku bertelinga panjang.
Kita tak cocok.
Tapi tak apa. Ini bumi, bukan bulan.
Sampai tulang-tulangku usang,
aku ingin kulit kepalaku tetap terlihat di bawah hidungmu.
Dan aroma pagi tetap tercium di ketiakmu.
Kulit jangat kasar dan bulu jempol, siapa peduli?
Hatimu lembut, dan otakmu tak berbulu.
Aku suka. Biarkan bintang-bintang dan bulan cemburu.
Bolongan hidungmu, tenggerkan di batang hidungku.
Ujung jarimu, telusuri kulit kepalaku,
buat aku bosan dengan bindang-bintang dan Ian Somerhalder.
Bibir atas hangat,
bibir bawah pahit.
Liur gula dan napas dingin.
Bolehkah?
Kuku besar, kuku panjang.
Mata bintitan dan juga bau mulut.
Memang keanpa?
Aku mau keriput tanganmu menggesek kulit jangatku.
Membabi buta.
Oh, aku lebih buta dari babi.
Kamu lebih bau dari babi. Hahaha, kita cocok.
Seperti malaikat yang salah mendarat di tepi bak sampah.
Bohong. Tipu aku lagi dengan emas murahan.
Aku tak mau emas.
Aku mau kamu, pria berbau pagi.
Karena bunyi napasmu serupa melodi burung parit.
Dan rambut rontokmu seperti remahan Orea.
Manis, mengundang peluk, merangsang liur.
Kalau oksigen bosan tinggal di paru-parumu, panggil aku.
Pakai paru punyaku dan oksigen akan memelukmu sampai parumu kekenyangan.
Rentang bumi dan surga bukan apa-apanya.
Jarak telingamu dari jantungku juga bukan apa-apanya.
Gendang telingamu menyukai irama jantungku?
Apa kamu menyukai melodi nyanyian jantung?
Kuharap ya. Karena jantung ini bernyanyi untuk gendang telingamu.
Urat-uratmu menonjol. Apakah segitu beratnya merinduku?
Tak apa, bukan? Otot hatimu akan kuat ketika aku jauh.
Aku menelusuri tubuhmu.
Kau tanya bagian terpenting?
Ketiakmu. Aroma ketiakmu seperti aroma pagu.
Oh, jangan tertawakan seleraku.
Kabel dan tiang BTS. Untuk apa?
Udara menjadi media tercepat bagi aromamu sampai ke lubang hidungku.
Otak ini mencandu segalamu.
No comments:
Post a Comment