Betulkah itu, ketika kamu bilang kamu pemulung rindu?
Karena rinduku berceceran di aspal berdebu.
Rinduku mengeriap dibalik batu-batu kecil.
Kata mereka, rinduku tersangkut, terjepit di tengah tenggorokan sungai tabu.
Rinduku tabu. Begitu tabu, tenggorok berdebu.
Begitu pekat, tenggorok tercekat.
Rinduku buta. Buta seperti awan biru.
Buta dari kehilangan tongkat. Tersandung, mengaduh-aduh.
Rinduku manyun. Badut dan anak-anak.
Bibir merah dan rambut acak. Rinduku malu,
Tertelan tawa bidadari dalam bak sampah.
Rinduku heran. Terkesiap pelan.
Detik-detik beku, semesta bisu, pilu.
Hei, kamu, kuning di tengah hitam.
Hakimi saja rinduku. Lalu mengadu pada diam.
Berdiri di tengah gila. Terpaku pada gelisah.
Rinduku, kapankah akan habis oksigen dalam tabungmu?
Susah. Rinduku benci matematika.
Tak bisa hitung hari-hari, detik-detik berjuta-juta.
Rinduku pusing. Matematika sulit.
Rindu.
Pemiliknya sedang mencumbu sandu.
Rinduku beradu. Memicu riuh, menyesap malu.
Aduh.
No comments:
Post a Comment