Aku ingin
menjadi astronot di matamu. Ada angkasa di sana, juga kumpulan bintang-bintang.
Adakah cara untuk membuat ruang di dalam mata? Aku ingin sekali ke sana.
Kadang aku
melihat laut di matamu. Ada kehidupan di sana. Ikan besar, ikan kecil, dan ikan
lain yang tak kukenal namanya. Ikan yang berlomba-lomba memberi atraksi indah
dan sempurna. Kalau begitu, aku ingin menjadi ikan di matamu, juga hidup dan
bernapas di dalamnya. Menurutmu, bagaimana?
Matamu bak matahari
bagi bumiku yang menguasai aku siang malam. Dan aku yang selalu berputar mengelilingimu.
Tolong izinkan
aku menjadi obat tetes, yang melebur dalam cairan di matamu.
Bisakah matamu
terbang dan mencari?
.
.
.
Suatu hari ada kesendirianmu, yang tertangkap oleh mataku
segala resah dan gelisah di dadamu. Pada sebuah pagi ketika rona merah matahari
tuntas menidurkan malam, engkaulah yang akan membangunkan segala rahasia hari;
melalui secangkir kopi hitam buatanmu, dan puisi yang kita sajikan sebelum
senja tiba.
Ada hembus nafasmu yang sejuk menidurkanku. Ketika saat
itu tiba, aku ingin mengajakmu menidurkan kesendirian, membungkus rahasia kecil
kita berdua; Sebab pertemuan ini, ialah sementara yang abadi, di dalam puisi atau
sajak-sajak tentang kita yang kasmaran. Tentang dua manusia yang saling
memusnahkan logika masing-masing.
Dan saat malam menyambut,
selimutnya tak lagi basah, karena air mata sudah menjelma bahagia yang menawar
segala resah, yang telah dipertemukan waktu pada sebaris sudah; Kita, yang aku semogakan.
Yang tak pernah bosan memperhatikanmu,
M.
No comments:
Post a Comment