Sunday, June 30, 2013

Fogedaxo¹³

Teringat masa-masa saat aku melangkahkan kaki untuk kali ketiga
Aku sering melawan dengan penuh berontak pada langkahan ketiga ini
Aku sering menendang batu-batu besar dengan sengaja hingga terluka
Aku sangat berontak pada masa putih biru
Tapi seberontak-berontaknya aku, ia tetap lukiskan semua itu
Goresan senyumnya tak pernah pergi

Kerap kali aku merasa ada tangis yang tak mau lagi jadi tawa,
Dan tawa yang selalu berujung pada tangis
Tentang sebuah sendinya yang teramat ngilu,
Dan tulang-tulangnya yang patah tak berbentuk
Saat melihat ketenanganmu diracun begitu,
Lidahku tegang,
Tapi justru kau telan lebih banyak

Tapi ia selalu hadir saat mentari berkata
Dan ombah menatap
Ia selalu bilang, "Aku memintamu untuk bermimpi. Maka bermimpilah. Bermimpilah dengan seluruh daya yang masih tersisa. Jika ada burung yang terbang tinggi menembus awan, dari bawah aku melihat dan berteriak, 'terus terbang tinggi, gapai citamu!'"
Dan seketika aku luluh dibuatnya

Cintanya datang dengan setulus hati,
Dan sepenuh hati sepenuh jiwa
Dan kalau saja hidup tidak berevolusi
Kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu,
Kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka...
Tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu
Lalu, dengan apa harus kulukiskan segala rasa terima kasihku padanya?
Mungkin hanya seuntai kata yang dapat mewakili sejuta perasaan
Dan sejuta cinta kupersembahkan padamu, guru

Duh, puisi ini memori banget sama Fogedaxo yegaa walaupun Maura nggak ikut, seenggaknya puisinya ikut kan:) Ini request-nya H-1, panas banget otak kebakar waktu mikir karena dadakan banget! Fogedaxo, aku sayang kalian semua beserta guru-guru tanpa terkecuali setulus hati, may happiness always be with us! Sukses kedepannya, semua:) See you all as soon as possible;D nggak mau tau harus sering reuni, titik. Oke, laporan selesai!



I love you, Fogedaxo, I swear I always do.

No comments:

Post a Comment