Thursday, February 14, 2013


Masih kubaca jejakmu di antara debu yang tertiup kemarau. Bergulung membentuk putaran arah yang tak menentu. Kompasku hilang diterjang badai, hingga segala jejakmu yang hanya sebatas pertanda tak mampu lagi kuungkap.

Tuanku menyambut dengan sebuah senyuman yang menghapus dahaga,
Kudekap kepulanganku penuh mesra,
Sambil terisak mengaduh padanya.
Kataku, "hilang lagi satu kepercayaanku. Badai merenggutnya dan musim kering menghilangkan jalannya. Aku kesepian dalam sesat."


Dan ia membelai kepalaku sambil berkata lambat-lambat,
“jangan khawatir, aku masih disini. Kamu bisa genggam kepercayaanmu padaku. Percayalah.”


Kasihku hampir hilang bentuk. Tapi pada akhirnya, kasihku kembali.

No comments:

Post a Comment